Sejarah Desa Bedahan

21 Juli 2022
Dibaca 592 Kali
Sejarah Desa Bedahan

Desa Bedahan merupakan salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Lamongan, tepatnya di Kecamatan Babat. Desa Bedahan terletak berbatasan selatan dengan Desa Sogo, berbatasan timur dengan Desa Plaosan, berbatasan barat dengan Kelurahan Babat dan Widang, serta berbatasann utara dengan Desa Truni. Desa ini dilewati oleh jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) dengan akses ke berbagai sarana umum. Desa Bedahan berjarak kurang lebih 10 menit dari stasiun Babat, 10 menit dari pasar Babat, selain itu terdapat sebuah stasiun pengisian bahan bakar yang berjarak kurang lebih 10 menit. Hal ini menjadikan posisi Desa Bedahan sangat strategis. Selain itu, Desa Bedahan juga dilewati oleh aliran Sungai Bengawan Solo.

 

Pada susunan desanya, Desa Bedahan dipimpin oleh seorang kepala desa. Pada susunan wilayahnya, Desa Bedahan terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Bedahan dan Dusun Tangar. Di pembagian wilayah lebih kecil, Desa Bedahan dibagi ke dalam 4 RW, dan dalam tiap RW dibagi menjadi 3 RT.

 

Nama Desa Bedahan sendiri diambil dari kata "bedah" dalam bahasa Jawa yang berarti robek atau jebol. Hal ini didasarkan pada tanggul dari Sungai Bengawan Solo yang ada di Desa Bedahan sering jebol. Tanggul pertama melintang dari daerah sekitar balai desa hingga daerah Mbah Wali Bedahan. Namun, setelah tanggul jebol, pemukiman warga berpindah dan dibuatlah tanggul kedua. Kemudian, tanggul kedua juga jebol, dan akhirnya dibangunlah tanggul terakhir yang merupakan tanggul terbesar, yang saat ini termasuk ke dalam daerah Dusun Tangar. Banjir yang terjadi karena tidak mampunya tanggul untuk menampung debit air sungai Bengawan Solo terjadi sejak masa kolonial Belanda. Salah satu kasus yang terjadi dicatat oleh "De Expres" pada 10 Maret 1932. Surat kabar ini mengabarkan bahwa telah terjadi banjir bandang pada 5 Maret 9 Maret 1932. Desa Bedahan dan desa tetangga yaitu Desa Banaran terkena dampak yang paling parah yaitu rumah dari warga-warga di sekitar desa tersebut mengalami kerusakan dan terendam air luapan Bengawan Solo. Tidak ada korban jiwa yang tercatat dan para penduduk telah mampu untuk melakukan evakuasi sendiri sepenuhnya dari daerah yang terdampak banjir

 

Dusun Tangar dan Dusun Bedahan merupakan dua desa yang berbeda pada masa silam, yaitu Desa Tangar dan Desa Bedahan dimana dulu Desa Tangar yang ada di tepi Sungai Bengawan Solo pada zaman Hindia Belanda dipimpin oleh kepala desa yang bernama Kasirin alias Prawiroredjo, sedang Desa Bedahan dipimpin oleh kepala desa Ngatmo. Menurut pemberitaan "De Indische Courant" pada 26 September 1938, Kepala Desa Prawiroredjo bahkan saat menjabat pernah mendapatkan penghargaan berupa bintang perunggu dari pemerintah Kabupaten Lamongan, Keresidenan Bojonegoro. Perkembangan Desa Bedahan lebih cepat dibanding Desa Tangar akhirnya oleh pemerintah dua desa digabungkan menjadi satu dengan nama Desa Bedahan, sedang Desa Tangar menjadi bagian dari Desa Bedahan, yaitu Dusun Tangar pada masa pemerintahan kepala desa Bapak Syafi'i Hasyim. Pada tahap awal, Desa Bedahan terdiri dari 2 RW dengan 8 RT. Kemudian pada saat ini telah berkembang menjadi 4 RW dengan 12 RT. Adapun kepala desa yang pernah memimpin Desa Bedahan diantaranya Anwar Efendi, Teguh Wahyudi, Muchamad Tohir, Adityawarman, dan yang menjabat saat ini yaitu Bapak Djuli Dariyanto,

 

Pada Desa Bedahan terdapat salah satu peninggalan pada zaman penjajahan Belanda, yaitu sebuah bekas benteng yang letaknya diperkirakan di sekitar Sungai Bengawan Solo. Namun, pada saat ini, peninggalan tersebut sudah tidak bisa terlihat akibat debit air sungai Bengawan Solo yang terus meningkat dari tahun ke tahun serta aliran air sungai yang begitu deras. Sedangkan melakukan ekskavasi pada bangunan bekas benteng tersebut tidak memungkinkan dilakukan karena hal-hal yang telah dijelaskan sebelumnya.

 

Tim Redaksi KKN BBM 66 Universitas Airlangga